Minggu, 23 September 2012

Kiat Mendidik Anak


Ketika anak kita lahir, atau bahkan ketika kita hendak berangkat menikah, yang terbersit dalam hati barangkali adalah kerinduan untuk memiliki anak yang berbakti kepada-Nya. Inilah anak yang dirindukan oleb kaum mukmin. Anak yang hukma-shabiyya rabbiradhiyyab (semenjak kecil telah memiliki kearifan dan sekaligus diridhai Tuhan). Anak shalih yang mendo'akan ketika para pelayat telah selesai menimbunkan tanah di pekuburan kita.

Kerinduan untuk memiliki anak yang berbakti kepada-Nya sejak kita berkeinginan untuk menikah, bukan saja boleh. Bahkan kita perlu membakarnya agar lebih meluap-luap lagi. Sehingga kerinduan itu membuat kita mempersiapkan diri. Kalau Anda merindukan anak-anak yang demikian, mari kita dengarkan kata-kata Rasulullah: "Allah merahmati seseorang yang membantu anaknya berbakti kepada-Nya," sabda Nabi SAW. Beberapa orang di sekeliling Nabi bertanya: "Bagaimana caranya, ya Rasulullah?" Beliau menjawab: "Dia menerima yang sedikit darinya, memaafkan yang menyulitkannya, dan tidak membebaninya, tidak pula memakinya."

Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Thabrani, Rasulullah bersabda, "Bantulah anak-anakmu untuk berbakti. Siapa yang menghendaki, dia dapat melahirkan kedurhakaan melalui anaknya." Siapa yang menghendaki, begitu Rasullullah yang mulia berkata, dia dapat melahirkan kedurhakaan melalui anaknya. Semoga tidak satupun di antara kita yang menghendaki anak-anak yang durhaka. Semoga tidak satu pun. Tetapi apa yang sudah kita lakukan? Sudahkah kita membantu anak-anak kita untuk berbakti sebagaimana yang diserukan oleh Rasulullah SAW?

Saya tidak berani menjawab. Marilah kita bertanya pada diri kita masing-masing. Selanjutnya, marilah kita tengok sekeliling kita. Mereka yang frustasi dan memberontak pada orangtua, anak-anak siapakah itu? Mereka yang tertangkap saat meminum obat-obat terlarang, anak-anak siapakah itu? Mereka yang berkelahi dan saling menerkam, anak-anak siapakah itu? Mereka bukan orang lain. Di antara mereka adalah anak-anak orang Islam. Bapaknya Islam. Ibunya Islam. Dan kampung mereka dikenal sebagai kampung Islam. Mengapa ini terjadi?

Saya tidak berani menjawab. Marilah kita bertanya pada diri kita masing-masing. Pada saat yang sama, marilah kita lihat apa yang terpancang di rumah-rumah saudara kita. Kalau dulu mereka mengisi saat-saat yang sepi dengan kidung barzanji atau maulid nabi, sekarang telah berganti dengan antena parabola dan pesawat televisi di atas 30 inchi. Kalau dulu mata yang maksiat ditangisi tak henti-henti, sekarang hiburan telanjang dihadirkan ke rumah-rumah orang "mukmin" melalui televisi dengan mengorbankan waktu-waktu produktif.

Sementara, koran-koran menyajikan isu dan gosip yang tak jelas ujung pangkalnya lantaran semua telah berdiri di atas agama baru yang bernama bisnis dan konsumtivisme. Baju baru menjadi lebih berharga daripada harga diri, sehingga seorang gadis bersedia tidak perawan lagi demi memperoleh gemerlap mode dan penampilan trendy. (Semoga Allah mensucikan kita dan keturunan kita dan hal-hal yang demikian).

Masya-Allah, betapa banyak yang telah kita lupakan atau bahkan sengaja kita tinggalkan. Kalau dulu tetangga merasa ikut bertanggungjawab atas kebaikan anak tetangganya sehingga anak-anak berkembang dalam kesejukan, sekarang ketika orangtua mendapati anaknya nakal yang terucap adalah kata-kata, "Apa salah saya? Kenapa anak saya yang begini? Padahal, perasaan, tidak pernah menyakiti orang lain."

Kenapa anak saya yang begini? menyiratkan kesaksian hati untuk mengikhlaskan anak-anak orang lain rusak, asal jangan merusak anak sendiri. Sehingga ketika anak sendiri yang rusak, pertanyaan yang muncul adalah, "Kenapa anak saya yang begini? (Kenapa bukan anak orang lain?)" Ya, kenapa begini.

Ada banyak hal yang perlu kita renungkan kembali. Tetapi, saat ini, marilah kita mengingat-ingat hadis Nabi sebagaimana kita simak di awal tulisan ini. Semoga kita termasuk orang-orang yang dirahmati Allah, dengan melaksanakan apa-apa yang diperintahkan Rasulullah SAW dalam membantu anak kita berbakti kepada-Nya, yaitu:
  1. Menerima yang Sedikit
  2. Memaafkan yang Menyulitkan
  3. Tidak Membebani
  4. Tidak Memakinya

Menerima yang Sedikit
Setiap anak telah diberi kelebihan oleh Allah 'Azza wa Jalla, dan ia dimudahkan untuk melakukan apa yang menjadi kelebihannya (bakat). Setiap anak memiliki kadar kelebihan yang berbeda-beda dan jenis keberbakatan yang beragam-ragam. Saya mempunyai bakat menulis, alhamdulillah itu saya telah memupuknya sehingga subur, dan orang lain juga mempunyai bakat menulis. Tetapi bakat saya menulis, berbeda dengan bakat menulis orang lain. Amanahnya juga berbeda antara saya dan orang lain. Ada anak yang bakatnya sangat beragam, sehingga ia menyukai hampir semua bidang dan mampu berprestasi di setiap bidang yang ia geluti.

Imam Syafi'i adalah salah satu contohnya. Ia meletakkan dasar-dasar ilmu ushul-fiqh, menetapkan qaul-qaul (pendapat hasil ijtihad) fiqih, menguasai ilmu firasat, memahami dan sekaligus termasuk ulama hadis yang piawai, serta sejumlah bidang keilmuan sejenis lainnya. Beliau juga orang yang banyak mendalami ilmu fisika, kimia, kedokteran, ilmu hitung, ilmu falak, perbintangan dan ilmu-ilmu empiris lainnya. Ada yang bakatnya hanya pada satu bidang, sementara bidang lainnya lemah.

Bahkan ada yang semula tampak sangat kesulitan dalam bidang tertentu, tetapi kemudian menjadi seorang yang paling menguasai. Setiap anak memiliki kelebihan, betapa pun sedikitnya. Betapa pun sedikitnya. Betapapun saat ini masih samar-samar. Atau, bahkan belum kelihatan.

Tugas Anda adalah menerima anak dengan hati terbuka dan cinta yang tulus. Terimalah yang sedikit dengan menjadikan diri Anda seorang ibu yang aminah, ibu yang menjadi sumber rasa aman bagi anak-anak Anda. Sehingga Andalah yang menjadi pelariannya ketika ia gelisah. Pangkuan Andalah yang dicari-cari tatkala Ia tidak bisa ulangan matematika. Bukan justru takut mendengar suara sepatu Anda.

Terimalah yang sedikit. Jangan terlalu banyak menuntut anak. Bisa jadi anak menjadi seperti yang Anda tuntut saat ini, tetapi jangan-jangan ia akan mengalami sejumlah masalah kejiwaan yang tak kunjung selesai. Beruntung kalau ia memperoleh jawaban yang menyejukkan hati di kitab suci. Kalau tidak, jangan-jangan tindakan orangtua terlalu menuntut anak termasuk di antara perbuatan yang menyebabkan anak melakukan kedurhakaan. Na 'udzubillahi min dzalik.

Terimalah yang sedikit. Dan biarkan kasih-sayang, keteduhan dan kedamaian belaian tangan Anda menjadi tanah subur tempat anak menumbuhkan yang sedikit itu menjadi banyak dan berharga. Sedangkan do'a-do'a yang Anda panjatkan di penghujung malam, menjadi air dan penjaga kesucian tujuan serta niat Anda dalam mendidiknya sampai kelak Anda berjumpa lagi di yaumil-qiyarnah Semoga kita termasuk orang-orang yang dikumpulkan dengan anak-cucu dan orangtua kita.

Memaafkan yang Menyulitkan
Ketika SD dan SMP saya mempunyai kesulitan dalam mata pelajaran bahasa daerah, disamping olahraga. Saya orang Jawa asli. Ibu Jawa dan bapak juga Jawa. Tetapi saya kesulitan bukan main untuk belajar bahasa Jawa. Ulangan bahasa daerah, sudah lumayan bisa mendapat nilai 5. Kalau tidak, saya malah mendapat nilai 4 atau 3. Sebuah angka yang istimewa karena jarang yang mendapatkannya.

Tentu saja bukan angka istimewa ini yang membuat saya bahagia. Nilai saya yang hampir selalu rendah dalam bahasa daerah, tidak menimbulkan masalah yang menyulitkan perkembangan saya lantaran ibu memaafkan apa yang menyulitkan saya. Ketika saya bercerita bagaimana hari itu saya mendapat nilai yang jelek (jelek sekali) dalam bahasa daerah, ibu justru balik bercerita bahwa beliau semasa sekolah juga mempunyai kelemahan dalam mata pelajaran tertentu.

Ibu bercerita tentang kecerdasannya dalam pelajaran bahasa daerah, tetapi lemah dalam mata pelajaran yang justru menjadi kelebihan saya. Sekali waktu, ibu membawakan buku biografi Albert Einstein, seorang penemu rumus E = MC2 yang awalnya di-DO dan sekolah lantaran bodoh. Kali lain, saya dibawakan buku biografi Thomas Alva Edison, ilmuwan cemerlang yang pernah dianggap sinting gara-gara mengerami telur angsa (tentu saja tidak bisa menetas). Ibu juga membawakan buku-buku biografi lainnya, sehingga saya merasa aman terhadap diri saya dan menerima kelebihan, kekurangan maupun apa yang oleh orang lain disebut kelemahan saya.

Kesulitan anak bisa beragam. Tidak hanya yang berkait dengan kecakapan di kelas. Anak barangkali cerdas di kelas, tapi ia membutuhkan proses yang lebih lama untuk bisa memakai dan meletakkan sepatu dengan baik. Anak barangkali cepat tanggap terhadap ta'lim (pendidikan) yang diberikan oleh bapaknya selepas shalat maghrib, tapi sulit mengucapkan 'ain dengan benar.

Memaafkan yang menyulitkan sambil tidak berputus asa terhadap rahmat Allah, insya Allah justru menjadikan anak berkembang dengan baik dan mampu mengatasi sendiri kesulitan-kesulitannya. Memaksa, memarahi, apalagi sampai membandingkan hal-hal yang menyulitkan anak dengan kecakapan anak lain, justru rawan terhadap berbagai jenis penyimpangan perilaku. Boleh jadi anak tidak nakal lantaran takut terhadap sikap keras Anda. Tetapi ia mungkin akan menjadi minder, rendah diri, dan kurang bisa bersikap tegas. Mungkin juga ia justru sebaliknya, menjadi sensitif, mudah tersinggung, kaku dan mudah tersulut kemarahannya.

Ibu Albert Einstein bisa memaafkan kesulitan yang menimpa anaknya. Ia membimbing anaknya dengan penuh kasih-sayang dan kesabaran. Ia tidak membebani anaknya. Kelak, anaknya menjadi ilmuwan terkenal yang sukses. Nasehat untuk memaafkan yang menyulitkan anak, ternyata tidak hanya efektif untuk kita yang muslim. Ia juga tepat untuk mereka yang belum mengenal Islam.

Nah, kalau sekarang Anda belum memaafkan hal-hal yang menyulitkan anak Anda, marilah kita segera membenahi diri selagi pintu belum tertutup. Boleh jadi, maksud memaafkan yang menyulitkannya lebih luas lagi, yaitu memaafkan perilaku anak yang menyulitkan orang tua. Semoga dengan demikian, mereka kelak menjadi anak yang menyejukkan mata.

Tidak Membebani
Allah tidak membebani manusia, kecuali sebatas kemampuannya. Ketika Allah 'Azza wa Jalla memerintahkan manusia untuk bertakwa, yang Ia perintahkan adalah fattaquLlaha mastatha'tum (bertakwalah semampu kamu). Ketika Allah Jalla wa 'Ala menyerukan manusia untuk melaksanakan berbagai kebajikan, yang Allah serukan adalah ahsanu-amala (sebaik-baik amal). Bukan aktsaru-amala (sebanyak-banyak amal).

Ketika Rasulullah SAW mengajak sahabatnya untuk melaksanakan apa yang beliau perintahkan, yang beliau katakan adalah, "Jika aku larang kau melakukan sesuatu, maka jauhilah, dan jika aku perintahkan kau untuk melakukan sesuatu, maka lakukanlah semampu kamu". (Muttafaq 'Alaih, diriwayatkan Bukhari & Muslim)

Orangtua yang menginginkan anak berbakti kepadaNya, hendaklah tidak membebani anak dengan tugas-tugas yang tidak mampu ia lakukan. Ketidakmampuan anak bisa disebabkan oleh belum siapnya anak untuk melakukan kegiatan-kegiatan yang dikehendaki orangtua, bisa lantaran usia anak maupun kesanggupan fisik anak belum memungkinkan, bisa pula lantaran tingkat kemampuan anak belum memadai.

Tugas-tugas atau tuntutan yang baik akan berakibat baik sebagaimana dikehendaki, jika dilaksanakan pada waktu yang tepat, dengan cara yang tepat, takaran yang tepat, dan membawa kemaslahatan bagi anak di masa-masa berikutnya. Inilah antara lain pengertian dari istilah hikmah.

Didiklah anak dengan bijak dan lemah-lembut. Tanamkan padanya keinginan untuk melakukan kebajikan-kebajikan dengan sebaik-baiknya menurut kadar kesanggupannya. Jangan terlalu menuntutnya untuk mampu melakukan segala macam tugas seperti yang anda kehendaki, saat ini juga. Jangan membanding-bandingkan Ia dengan saudaranya yang memiliki prestasi lebih bagus dalam bahasa Inggris, misalnya. Hindari terlalu banyak membebani anak dengan berbagai keharusan.

Perintah-perintah yang terlalu banyak menggunakan kata harus, bukannya memotivasi anak. Justru melemahkan. Perintah serba harus dan jangan dengan serta-merta, tidak merangsang anak untuk kreatif dan antusias melakukan kebaikan. Sebaliknya, ia secara perlahan berubah menjadi mesin yang kehilangan inisiatif-inisiatif kreatif maupun kecakapan berinovasi. Ia hanya melaksanakan apa-apa yang sudah diinstruksikan.

Selebihnya, mudah-mudahan ia tidak mengalami tekanan mental yang berkepanjangan. Dalam 'ushul-fiqli dikenal waidul-khamsah (lima prinsip dasar), salah satunya adalah terpeliharanya akal. Kalau orangtua terlalu membebani anak dengan tugas-tugas yang belum sanggup ia lakukan atau dengan tuntutan untuk mencapai prestasi-prestasi tertentu, apakah ini tidak termasuk pengebirian akal dan bahkan jiwa? Wallahua'lam bishawab.

Abul Laits rahimahullah, menurut Shalih Baharits menggambarkan kasih-sayang dan perlindungan ulama salaf terhadap anak-anaknya dan perbuatan yang menyakitkan orangtuanya. Beliau berkata bahwa sebagian kaum shalihin tidak memerintahkan anak suatu beban yang dikhawatirkan akan mengantarkan anak mendurhakai orangtuanya sehingga menyebabkannya masuk neraka. Itulah pandangan ulama salaf yang memiliki pandangan yang jauh tentang kasih-sayang kepada anak dan keutamaannya membantu anak selamat di dunia dan di akhirat. Sehingga setiap hendak memerintahkan kepada anaknya, mereka selalu berfikir, "Apakah anakku akan sanggup melakukannya? Kalau tidak sanggup, bukankah itu berarti aku telah menjerumuskannya ke dalam kebinasaan?"

Seorang ibu ketika hendak memberikan perintah kepada anaknya, hendaklah memperhatikan betul apakah perintahnya akan mudah dilaksanakan anak atau tidak. Seorang ibu perlu berusaha dengan sungguh-sungguh agar anaknya tidak berkesempatan untuk menolak perintah orangtua. Ini bukan dengan menggunakan kekuasaan sebagai orangtua untuk memaksa, tetapi dengan berhati-hati betul dalam memberikan perintah. la hanya memberikan perintah yang anak sanggup melaksanakannya, kecuali tugas-tugas yang sifatnya saran dan dorongan saja.

Kalau seorang anak memperoleh tugas-tugas yang sanggup ia lakukan, semangatnya akan berkembang. Di samping itu perasaannya terhadap orangtua juga ikut berkembang ke arah yang baik, sehingga secara bertahap tumbuh dorongan untuk berbakti kepada orangtua. Inilah yang dijaga oleh orangtua terdahulu. Mereka takut anaknya mendapat murka Allah lantaran tidak melaksanakan apa yang ditugaskan orangtuanya. Sementara tugas dari orangtua itulah sesungguhnya yang berat dan mengejutkan anak. Mereka mengharapkan anak yang barakah.

Kesabaran mereka bersumber dari kesadaran tentang rahmat dan murka Tuhan. Lalu, apa akibatnya kalau anak senantiasa terbebani? Mungkin ia menjadi anak yang minder dan tidak percaya diri. Mungkin ia menjadi seorang opportunis yang kemana ia terbang tergantung pada kemana angin bertiup. Mungkin ia menjadi seorang pemberontak yang menentang apa yang diperintahkan orangtua, begitu ia merasa punya kekuatan. Mungkin juga ia memperoleh guru yang menuntunnya dengan kearifan dan kesabaran. Gurunya bisa jadi ia dapatkan di masjid, di sekolah, di pasar, atau di buku.

Tidak Memakinya
Ridha Allah bergantung pada ridha orangtua. Ucapan ibu adalah do'a yang mustajabah. Apalagi jika lahir dan keadaan hati yang kuat. Itulah sebabnya, para ibu terdahulu sangat menjaga lisannya agar tidak pernah sekalipun mengucapkan kata-kata yang buruk bagi anaknya. Ia lebih memilih untuk menangis ketika ia tak tahan lagi menahan kesal, daripada mengucapkan sumpah atan memberi julukan kepada anak sesuatu yang buruk, misalnya, "Kamu ini kok nakal, sih?"

Mereka menahan lidah sekuat-kuatnya, karena takutnya mereka kepada Allah. Mereka menjaga ucapannya sebisa-bisanya karena takut ucapan yang sekarang, menjadi jalan untuk mengucapkan makian pada anaknya. Sebab ucapan seorang ibu kepada anaknya, terutama ucapan-ucapan yang keluar dan hati yang paling dalam, akan menghunjam tepat di lubuk hati anak.

Kalau sekali waktu seorang ibu mengucapkan kata yang buruk, ia segera berlari untuk memohon ampun kepada Allah Yang Maha Pengasih. Kemudian ia meminta maaf kepada anaknya. Di saat inilah, anak justru mendapatkan pelajaran yang nyata. Tangis ibu dan permintaan maafnya, menggerakkan anak untuk menanggalkan kenakalan-kenakalan, dan menggantinya dengan akhlak yang baik. Ketika seorang ibu meminta maaf kepada anaknya, yang terjadi justru anak akan ikut menangis.

Atau, peristiwa itu menjadi sejarah besar yang mengesankan dan mempengaruhi pertumbuhan pribadinya. Ia belajar mengenai akhlak yang mulia dan kelemah-lembutan ibu. Dan bukan sebaliknya, yakni makian. Caci-maki hanya mendorong anak untuk melakukan kenakalan yang lebih besar, di samping sebagai pelajaran bagi anak itu sendiri bagaimana mencaci yang menyakitkan orang. Makian orangtua justru menjadikan anak kebal terhadap makian, nasehat, dan perkataan yang kasar. Kata yang kasar akan ia balas dengan kata yang kasar dan suara lantang.

Caci maki tidak merangsang anak untuk memiliki kepekaan terhadap diri sendiri maupun orang lain. Fir'aun adalah musuh Allah. Kezaliman Fir'aun sangat melebihi batas. Ia bahkan telah mengaku menjadi Tuhan. Di tangannya, Siti Masyithah menemui syahidnya setelah direbus dalam minyak mendidih. Tetapi, terhadap orang yang sezalim itu, Allah 'Azza wa Jalla memerintahkan Nabiyullah Musa alaihissalam agar menyeru Fir'aun dengan lemah lembut. Allah SWT berfirman, "Pergilah kamu beserta saudaramu dengan membawa ayat-ayat-Ku, dan janganlah kamu berdua lalai dalam mengingat-Ku. Pergilah kamu berdua kepada Fir'aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas. Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat akan takut" (Q.S. Thaahaa, 20:42-44).

Sebagai penutup, marilah kita renungkan sebuah hadis Nabi SAW, sambil memohon kepada Allah SWT agar mensucikan mulut kita yang masih kotor: Ibnu Umar RA mengatakan bahwa Rasulullah SAW berkunjung kepada Saad bin Ubadah. Turut bersama beliau Abdurrahman bin Aufdan Saadbin, Abi Waqqash dan Abdullah bin Mas 'ied RA, maka Rasulullah SAW tampak menangis. Begitu para sahabat melihat beliau menangis, maka merekapun ikut menangis. Setelah itu beliau berkata, "Apakah kalian tidak mendengar bahwa sesungguhnya Allah tidak akan menyiksa seseorang karena tetesan air mata, dan tidak pula karena kesedihan hati, akan tetapi Dia akan menyiksa karena ini atau memberi rahmat (sambil menunjuk lidahnya)." (Muttafaq 'Alaih).

Disarikan dari buku yang berjudul "Bersikap Terhadap Anak - Pengaruh Perilaku Orangtua terhadap Kenakalan Anak" karangan Moh. Fauzil Adhim.

Selasa, 06 Oktober 2009

Proses Pendidikan Anak Bagian 2

Pada artikel sebelumnya, anda telah dijelaskan mengenai bawaan alamiah yang ada dalam diri tiap anak. Sekarang kita akan membahas mengenai hal-hal yang tergolong sebagai bawaan alamiah yang ada dalam diri anak.
Apakah bawaan alamiah itu ? Bawaan alamiah adalah bekal sejak lahir yang dimiliki oleh tiap anak yang terdiri dari

  1. Genetik. Tahukah anda bahwa genetik (kromosom) yang diturunkan oleh orangtua kita mempengaruhi perilaku sosial yang kita tampilkan ? Begitulah hasil penelitian yang dilakukan oleh seorang pakar biologis Harvard, David Haig. Selama ini, kita mengenal bahwa kromosom menurunkan ciri-ciri fisik dari kedua orangtua kepada anaknya namun penelitian terbaru menemukan bahwa sifat-sifat, karakter dan kebiasaan ternyata juga diturunkan dari orangtua kepada anak mereka melalui gen. Anak kembar yang dipisahkan sejak lahir dan mendapatkan pengasuhan yang berbeda pun masih memiliki ciri perilaku yang sama. Penemuan penurunan sifat, karakter dan kebiasaan sosial ini terjadi disebabkan ilmuwan saat ini telah mampu memetakan gen dalam diri manusia dengan lebih detil lagi.
  2. Jenis kelamin dan hormon. Gender yang berbeda akan mempengaruhi hormon yang produktif di dalam tubuh. Hormon ini mempengaruhi perilaku yang ditampilkan oleh tiap gender. Ketidakseimbangan hormon dalam tubuh juga dapat mempengaruhi perilaku. Wanita lebih mudah terkena depresi karena ketidakseimbangan antara hormon estrogen dan progesteron. Anak laki-laki dinilai lebih agresif disebabkan adanya hormon testoteron dalam dirinya. Itu sebabnya mengapa secara instingtif, banyak orangtua telah membedakan cara pengasuhan terhadap anak laki-laki dan anak perempuan.
  3. Cara menjalin ikatan emosi dengan orang lain. Ada anak yang dapat dengan mudah bergaul dengan orang baru. Namun ada juga anak yang lebih sulit menerima keberadaan hal-hal baru dalam lingkungannya. Ini merupakan faktor bawaan yang telah ada sejak lahir. Tidak berarti anak yang introvert memiliki konsep diri yang rendah. Hanya saja energi yang mereka punyai lebih diarahkan ke dalam diri mereka sendiri daripada keluar diri mereka. Konsep diri rendah dan tidak percaya diri merupakan polusi yang didapat dari pola asuh yang terjadi di lingkungannya.
  4. Perkembangan otak. Otak manusia mengalami perkembangan yang bertahap. Selama berkembang, otak akan mempengaruhi perilaku yang ditampilkan oleh anak kita. Itulah sebabnya mengapa anak perempuan lebih cepat berbicara dibandingkan dengan anak laki-laki atau mengapa anak perempuan lebih menyukai permainan yang melibatkan perilaku sosial dibandingkan anak laki-laki yang lebih menyukai permainan yang melibatkan aktivitas motorik kasar.

Seringkali, kita sebagai orangtua kurang memahami bawaan alamiah yang ada dalam diri anak sehingga kita menjadi lebih sering menuntut anak untuk berperilaku sesuai dengan keinginan kita atau tuntutan sosial/masyarakat. Contohnya : ada seorang anak yang memang memiliki karakter untuk mengobservasi lingkungan sebelum ia terlibat didalamnya. Padahal orangtuanya lebih menyukai anak yang mampu langsung bergaul dengan orang lain. Apa yang terjadi kemudian ? orangtua tersebut langsung memborbardir anak dengan perkataan,”Ayo, sana main. Tidak perlu malu-malu.” Atau, “Anakku ini loh… pemalu banget kalau ketemu orang. Gak tahu anaknya siapa ? Padahal papa mamanya supel” Perkataan ini dikatakan di depan anak. Itulah asal mula lahirnya kepribadian seorang anak pemalu.

Mengasuh sesuai dengan bawaan alamiah seorang anak tidak berarti kita serba membiarkan dan membolehkan atau menjadi orangtua permisif. Supaya tidak terjebak menjadi orangtua permisif, anda perlu mengenali bawaan alamiah anak anda dan nilai-nilai hidup apa yang hendak anda tanamkan dalam diri anak. Jika anak berperilaku menyimpang atau tidak sopan, anda tetap perlu mengarahkannya.

Pengasuhan yang kita terapkan dengan mengikuti bawaan alamiah anak akan membantu anak untuk lebih mengenal dirinya sendiri. Dengan demikian, kelak anak menjadi nyaman dengan dirinya sendiri dan nyaman pula memutuskan tujuan hidupnya. Pondasi terdasar kebahagiaan adalah bersahabat dan menerima diri sendiri sebagai apa adanya.

Sandra Mungliandi, M Psi., Psikolog.

Proses Pendidikan Anak Bagian 1

Anak kelas 6 di sebuah sekolah swasta diwawancarai oleh seorang reporter TV swasta,”Kenapa kita harus punya cita-cita ?”. Si anak menjawab,”Supaya kita punya tujuan hidup.” Begitu jawaban anak itu dengan percaya diri. Singkat namun dalam maknanya.
“Apa cita-cita kamu ?”.
Si anak menjawab,”Menjadi penerbit buku.”
“Penerbit buku apa ? Komik atau buku pelajaran atau yang lain.?”
“Buku pelajaran.”
“Buku pelajaran bidang apa ?”
“Bahasa Indonesia.”

Wawancara ini berlangsung dengan sangat lancar. Anak SD ini dapat menjawabnya tanpa ragu-ragu mengenai tujuan yang ingin ia capai dalam hidupnya. Berapa banyak anak yang telah dididik sejak kecil untuk bisa memahami tujuan hidupnya ?

Bandingkan dengan 2 orang yang telah duduk di bangku SMU ini. Secara tidak sengaja ketika saya sedang berjalan-jalan di daerah sekitar rumah, saya mendengarkan percakapan 2 orang anak SMU mengenai jurusan apa yang akan mereka putuskan setelah mereka lulus. Sebut saja si A dan si B. Si A bertanya pada B,”E… kamu wis mutus’no mau masuk jurusan apa ? Aku kok bingung ya?. Papaku mau aku masuk ekonomi, tapi aku gak suka itung-itungan. Aku pengin masuk psikologi, tapi gak boleh sama mamaku. Kata’e cuman ngurusin orang gila tok. Yak apa ya ?”.

Si B menjawab,”Lo lo… kamu nek mau masuk Psikologi kudu bisa ngomong sama orang lo. Tapi… gak harus rasanya. Aku punya teman, orang’e pendiam banget. Tapi dia masuk psikologi. Kata’e orang, kalau mau masuk psikologi harus bisa ngomong sama orang. Kamu bisa gak ngomong sama orang ?”.

Mendengar komentar B yang terakhir itu, saya menjadi tersenyum kecil (maunya sih tertawa terbahak-bahak, tapi nanti dipikir saya orang gila. Ngapain ibu hamil ini, sudah jalan sendiri, eh… pake ketawa-ketiwi sendiri lagi). Dalam pikiran saya terlintas,”Kenapa syarat masuk psikologi harus bisa bicara dengan orang ? Memangnya selama ini kamu bicara dengan siapa ? Apakah selama ini kamu bicara dengan anggota kebun binatang ?”. Namun dibalik rasa geli saya, terlintas juga perasaan sedih. Kenapa anak yang sudah menjelang dewasa ini, tidak mengerti apa tujuan hidupnya ? Hal ini sangat bertolak belakang dengan anak SD yang telah saya ceritakan di atas. Pada usia sangat muda, ia telah tahu apa yang akan ia lakukan ketika dewasa nanti. Sedangkan, kakak yang berusia sangat jauh diatasnya masih kebingungan hendak di kemanakan hidupnya ini.

Nah… Menurut Anda pemahaman mengenai tujuan hidup dan siapa saya sebenarnya merupakan Bawaan Alamiah atau Bentukan dari lingkungan ?

Mengapa remaja SMU tersebut belum mampu mengenal siapa saya, apa tujuan hidup saya dan minat saya apa ?

Mengapa pengenalan karakter diri dan tujuan hidup merupakan kegiatan yang sulit bagi tiap orang ?

Bahkan ada orang yang telah berumur 27 tahun namun masih belum dapat memutuskan siapa dirinya sebenarnya. Hal ini dikarenakan sejak kecil kita terbiasa di doktrin mengenai perilaku, pikiran dan perasaan yang benar dan salah dengan mengabaikan bawaan alamiah yang ada dalam diri kita masing-masing. Pendidikan diterapkan tidak sesuai dengan tahapan perkembangan diri anak-anak. Perkembangan seorang anak dinilai dari apa yang bisa dan tidak bisa dilakukan. Lebih cepat atau lebih lambat dari teman sebayanya. Hal inilah yang menyebabkan terjadinya kebingungan dalam diri anak, antara keinginan menjadi diri sendiri dan mengikuti doktrin dari orangtua. Ibaratnya seperti sebuah pohon yang tumbuh dibawah atap semen sehingga menyebabkan pertumbuhannya menjadi miring, tidak lagi lurus mengikuti hukum alam. Ketika dewasa berakibat menjadi kebingungan akan identitas diri.

Setiap makhluk hidup dilahirkan dengan memiliki bawaan alamiahnya sendiri-sendiri. Bawaan alamiah ini diturunkan dari orangtua pada diri anak masing-masing. Bukti nyata adalah dapat diamati pada saudara kembar yang telah dipisahkan sejak lahir dan diasuh oleh orangtua dan lingkungan berbeda. Ketika diteliti mereka memiliki kemiripan satu dengan yang lainnya mulai dari cara berjalan, tersenyum, mengambil keputusan dll. Inilah yang membuktikan bahwa ada sejumlah karakteristik yang dibawa oleh tiap manusia sejak ia lahir.

Tugas kita, sebagai orangtua adalah mengenali karakteristik alamiah yang telah dibawa anak-anak ini. Setelah mengenali, kita perlu untuk membentuknya/mengasuhnya sehingga sesuai dengan kecenderungan yang ada dalam diri si anak. Kesalahan mengenali bawaan alamiah ini yang menjadi penyebab terjadi kesalahpahaman antar anak dan orangtua. Anak merasa tidak dimengerti oleh orangtuanya sedangkan orangtua merasa bahwa ada sesuatu yang tidak beres dengan anaknya karena berperilaku berbeda dengan harapan yang selama ini dimilikinya.

Apa sajakah bawaan alamiah yang dibawa oleh anak sejak lahir ? Jawaban ini akan anda dapatkan pada artikel kedua.

Salam hangat penuh cinta untuk anda sekeluarga.
Sandra Mungliandi, M Psi., Psikolog.

Menghadapi Ledakan Emosi

anak_yg_marah.jpg Tingkah laku kemarahan anak Anda yang masih kecil tidak kunjung berhenti juga hari itu. Terdengar jeritan tingginya begitu memekakkan telinga. Dan banyak barang telah menjadi sasaran kemarahannya. Semua tindakan orangtua jadi salah. Secara naluriah, Anda ingin pergi meninggalkan situasi seperti ini bukan?? Namun ini bukanlah pilihan bijaksana. Pastilah ada solusi pemecahannya.

Hiruk-pikuk si kecil yang sedang berteriak dan menendang ini dapat membuat kita, para orangtua, frustasi. Bagaimana menghadapi situasi ini? Alih-alih melihat kemarahan sebagai suatu bencana, mari kita coba melihat kemarahan sebagai kesempatan untuk belajar.

Kenapa Emosi Anak-anak Bisa Meledak?

Ada berbagai perilaku ledakan emosi, mulai dari menangis dan melolong hingga menjerit, menendang, memukul, maupun menahan nafas kuat-kuat. Ledakan emosi biasanya terjadi dari usia 1 hingga 3 tahun, baik anak laki maupun perempuan. Temperamen anak-anak berubah secara dramatis, jadi beberapa anak mungkin mengalami ledakan emosi secara berkala, sedangkan yang lain mungkin hanya jarang-jarang saja.

Bahkan anak kecil yang baik sekalipun terkadang bisa mengalami ledakan emosi yang sangat kuat. Ini adalah bagian pengembangan diri yang normal dan tidaklah perlu dipandang sebagai sesuatu yang negatif. Perlu disadari bahwa anak-anak belum memiliki kemampuan kontrol diri seperti orang dewasa.

Bayangkan bagaimana rasanya saat Anda butuh untuk mengoperasikan sebuah DVD Player dan tidak bisa melakukannya, tidak peduli betapa kerasnya Anda mencoba. Hal ini disebabkan karena Anda tidak mengerti cara melakukannya. Sangatlah membuat frustasi, bukan? Beberapa dari kita mungkin mengomel, melemparkan buku petunjuk pengoperasian, membanting pintu dan lain sebagainya. Itu adalah luapan emosi versi orang dewasa. Nah anak-anak juga mencoba menguasai dunia mereka, dan di saat mereka tidak bisa melakukan sesuatu, sering kali mereka menggunakan satu cara untuk melampiaskan kejengkelan mereka, yaitu meluapkan emosinya.

Beberapa penyebab dasar dari ledakan emosi yang sering dikenali adalah kebutuhan akan perhatian, lelah, lapar, ataupun perasaan tidak nyaman. Sebagai tambahan, ledakan emosi ini adalah akibat frustasinya si anak karena mereka tidak bisa mendapatkan sesuatu (misalnya suatu benda ataupun perhatian orangtuanya) untuk melakukan apa yang mereka inginkan. Frustasi merupakan suatu bagian dari hidup mereka yang tidak bisa dihindarkan sembari mereka mempelajari bagaimana manusia, benda, dan tubuh mereka bekerja.

Ledakan emosi juga umum dialami saat usia 2 tahun, saat di mana anak-anak belajar menguasai bahasa. Mereka mengerti akan sesuatu namun susah untuk mengatakannya karena keterbatasan bahasa. Bayangkan bila kita tidak bisa mengkomunikasikan kebutuhan kita kepada seseorang; ini adalah pengalaman buruk yang bisa memicu emosi. Dengan meningkatnya kemampuan berkomunikasi, ledakan emosi ini cenderung menurun.

Penyebab lain dari ledakan emosi terjadi saat anak harus melewati suatu masa dimana kebutuhan akan otonomi meningkat. Di masa ini mereka ingin mendapatkan suatu kebebasan dan pengendalian. Sebenarnya hal ini adalah kondisi yang bagus untuk memupuk semangat berjuang, di mana seringkali anak berpikir “aku bisa mengerjakannya sendiri” atau “aku mau itu, berikan itu padaku”. Nah, saat mereka merasa bahwa mereka tidak bisa mengerjakan atau tidak bisa memperoleh apa yang mereka inginkan, maka ledakan emosi bisa terpicu.

Menghindari Ledakan Emosi Kemarahan

Cara terbaik untuk mengatasi ledakan emosi adalah dengan menghindarinya bilamana memungkinkan. Berikut ini adalah strategi yang bisa membantu:

  • Pastikan anak Anda tidak bersandiwara hanya karena dia tidak mendapatkan perhatian yang cukup. Bagi seorang anak, perhatian negatif (reaksi orangtua terhadap ledakan emosi kemarahannya) adalah lebih baik ketimbang tidak ada perhatian sama sekali. Cobalah untuk membiasakan diri mengenali perilaku baik sang anak dan memberikan penghargaan atas perilaku baiknya.
  • Cobalah memberi anak-anak tersebut suatu kontrol atas hal-hal kecil yang mereka sanggup lakukan. Hal ini akan memenuhi kebutuhan mereka akan kebebasan dan mengurangi ledakan emosi kemarahan secara drastis. Tawarkan pilihan kecil seperti “Apakah kamu mau jus jeruk atau jus apel?” atau “Apakah kamu mau menggosok gigi sebelum atau setelah mandi?”. Dengan cara ini, Anda tidak bertanya “Apakah kamu mau menggosok gigi sekarang?” yang tanpa bisa dihindari akan dijawab oleh sang anak dengan “Tidak”.
  • Simpan dengan baik benda-benda berbahaya agar di luar jangkauan anak-anak, jauhkan dari pandangan mata ataupun jangkauan tangan mereka; sehingga mereka tidak perlu berjuang begitu keras untuk mendapatkan benda-benda tersebut. Tentu saja hal ini tidaklah mungkin bisa dilakukan setiap waktu, khususnya di luar rumah di mana lingkungan tersebut tidaklah bisa dikendalikan.
  • Alihkan perhatian sang anak. Manfaatkan rentang perhatian anak yang pendek dengan menawarkan barang pengganti ataupun memulai aktivitas baru untuk menggantikan aktivitas yang berpotensi membuat frustasi ataupun yang dilarang. Atau bisa juga dengan mengganti suasana dengan membawa mereka ke ruang lain.
  • Tatkala anak-anak bermain atau berusaha menguasai suatu tugas baru, aturlah agar mereka bisa mengalami keberhasilan setahap demi setahap. Berikan mainan yang sesuai dengan umurnya. Juga mulailah dengan sesuatu yang sederhana dan mudah sebelum melanjutkannya dengan tugas yang lebih menantang.
  • Pertimbangkan permintaan anak dengan seksama. Apakah permintaan ini terlalu berlebihan atau tidak? Pertimbangkan dengan baik, penuhi permintaan tersebut bilamana tidak berlebihan.
  • Ketahui limit/batasan anak Anda. Jika Anda tahu anak sedang lelah, maka tidaklah tepat untuk mengajaknya berbelanja ataupun memintanya melakukan satu tugas lagi.

Jika anak masih mengulangi aktivitas yang dilarang padahal membahayakan, peganglah sang anak dengan kuat untuk beberapa menit. Tatap matanya dan katakan Anda tidak mengijinkan tindakannya. Tetaplah konsisten. Anak-anak harus mengerti bahwa Anda serius untuk masalah yang berkaitan dengan keamanan.

Taktik Menghadapi Ledakan Emosi Kemarahan

Hal terpenting yang harus diingat tatkala berhadapan dengan seorang anak yang sedang marah, tidak peduli apa sebabnya, adalah tetap bersikap tenang. Jangan memperparah keadaan dengan rasa frustasi Anda. Anak-anak bisa merasakan saat orangtua mereka menjadi frustasi. Hal ini bisa membuat frustasi mereka menjadi lebih parah. Tarik nafas dalam-dalam dan cobalah untuk berpikir lebih jernih. Anak Anda meniru teladan Anda. Memukul anak tidaklah membantu dalam situasi seperti ini; karena anak akan menangkap pesan bahwa kita bisa menyelesaikan masalah dengan pukulan. Milikilah kontrol diri yang cukup.

Pertama, coba pahami apa yang sedang terjadi. Ledakan emosi kemarahan harus ditangani secara tersendiri tergantung dari penyebabnya. Cobalah untuk mengerti penyebabnya. Misalnya ketika anak Anda sedang mengalami kekecewaan besar, Anda perlu berempati dengannya sebelum mengarahkan tindakan dan sikap selanjutnya.

Situasinya akan berbeda saat menghadapi ledakan emosi dari seorang anak yang mengalami penolakan. Sadarilah bahwa anak kecil belum memiliki kemampuan untuk menjelaskan suatu alasan dengan baik, sehingga Anda mungkin tidak menerima penjelasan yang memuaskan. Mengabaikan ledakan amarah mereka adalah satu cara untuk menangani hal ini dengan catatan ledakan emosi ini tidak membahayakan anak Anda ataupun orang lain. Lanjutkan saja aktivitas Anda setelah memberikan perhatian sesaat, biarkan ia berkutat sendiri dengan perasaannya namun masih dalam jarak pandangan Anda. Jangan tinggalkan anak kecil Anda sendirian, bila tidak, dia akan merasa ditinggalkan dengan emosi yang masih belum terkontrol. Ingat cara ini tidak selalu berhasil namun untuk kasus ringan bisa jadi sangat membantu.

Nah ceritanya akan sangat berbeda jika anak-anak yang sedang marah tersebut berada dalam bahaya karena menyakiti dirinya sendiri atau orang lain. Sebaiknya anak ini dibawa ke tempat yang tenang dan aman untuk ditenangkan. Hal ini juga berlaku untuk ledakan emosi yang terjadi di tempat umum.

Anak-anak yang lebih besar cenderung memanfaatkan ledakan emosi untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan. Apalagi jika mereka telah mengetahui taktik ini berhasil sebelumnya. Jika anak-anak tersebut telah bersekolah, adalah pantas untuk meminta mereka ke kamar mereka untuk menenangkan diri dan memikirkan perilakunya. Ketimbang menggunakan batasan waktu tertentu, orangtua bisa meminta mereka tetap berada di kamar hingga mereka telah bisa mengendalikan diri. Ini adalah pilihan untuk penguasaan di mana anak belajar untuk mengendalikan diri dengan tindakan mereka.

Setelah Badai Kemarahan

Terkadang seorang anak mengalami kesulitan menghentikan kemarahannya. Dalam kasus ini, kita bisa bantu mereka dengan berkata “Saya akan membantu menenangkanmu sekarang”. Tapi jangan beri penghargaan kepada anak Anda setelah kemarahannya dengan mengalah. Hal ini hanya akan membuktikan kepada anak Anda bahwa ledakan emosi adalah efektif untuk memaksakan kehendaknya. Sebagai gantinya, puji anak Anda atas keberhasilannya mengendalikan diri.

Setelah kemarahan, anak juga menjadi peka ketika mereka mengetahui bahwa mereka tidak lagi berlaku manis. Nah inilah saat yang tepat untuk memeluk mereka dan meyakinkan bahwa mereka tetap dicintai tanpa syarat.

Penjelasan detail mengenai hal ini bisa juga Anda dapatkan dalam materi Parents Club Multimedia Course dalam bentuk DVD/CD beserta petunjuk pelatihannya.

Salah Motivasi

Motivasi … kata populer dalam mendidik anak-anak - dan juga karyawan. Mulai dari orangtua hingga kepala sekolah, pasti pernah melontarkan kata ajaib ini. “Anak ibu kurang motivasi. Tolong ya dimotivasi di rumah”. Atau “Motivasinya mudah dipengaruhi teman-temannya, jadinya dia sering ikut-ikutan ulah temannya. Tolong diperhatikan ya”. Pernah mendengar himbauan ini ?

Apakah motivasi itu? Menurut kamus Merriam-Webster’s 11th, motivasi adalah sesuatu (seperti kebutuhan atau keinginan) yang menyebabkan seseorang mau bertindak atau bereaksi. Definisi yang baik, bukan ? Karena baiknya, banyak orang yang menggunakannya namun seringkali kelebihan dosis, sehingga menjadi kurang tepat guna.

Ada seorang anak laki-laki yang bernama Brave – lahir di urutan pertama. Pandangan yang beredar di masyarakat menyatakan bahwa seorang anak laki-laki harus mampu tumbuh menjadi anak pemberani dan bisa melindungi adik-adiknya maupun orangtuanya. Namun pada perkembangan anak ini, terjadi penyimpangan. Si anak tumbuh menjadi anak yang takut suasana gelap dan takut suara guntur.

Sebagai orangtua, penyimpangan ini disikapi dengan pemberian motivasi seperti ini, “Mama aja, dulu waktu masih kecil berani sama gelap. Waktu itu umur mama masih lebih kecil dari kamu loh. Masa kamu sudah SD masih saja takut. Kalau kamu masih bayi, wajar takut sama gelap. Sekarang kan sudah gede. Udah punya adik lagi.”

Atau ”Ayo… dong kak … masa sama guntur aja takut. Kan ada mama disini.” Atau “Ingat loh… nama kakak kan Brave, artinya itu pemberani. Jadi anak yang pemberani dong”.

Motivasi yang diberikan sang Bunda, justru membuat Brave menjadi lebih ciut nyalinya menghadapi suara keras dan gelap. Bahkan rasa takutnya ini merembet menjadi takut bertemu orang lain.

Rasa takut Brave terhadap gelap tentu punya sejarah sebelumnya. Usut punya usut, ternyata ketika Brave masih batita, pernah dikunci di kamar mandi oleh baby sitternya. Pengalaman traumatis ini, yang belum mendapatkan penanganan terbawa hingga sekarang dan diperparah dengan kesalahan memberi motivasi pada Brave. Maksud/niat sang ibu adalah baik yaitu menumbuhkan keberanian dalam diri anaknya namun kurangnya satu langkah dalam pemberian motivasi menyebabkan motivasi tersebut tidak diterima dengan baik oleh bawah sadar si anak. Langkah apakah yang kurang ?

Berikut langkah-langkah pemberian motivasi agar lebih berhasil dan didengar oleh anak.

1. Pahami dan terima semua perasaan dan pikiran anak

Rasa takut, rasa malas, rasa tidak aman, rasa cemas, pastilah berawal dari pemikiran yang salah yang tercipta dalam otak anak. Tugas kita pada saat awal ini adalah menggali kesalahan-kesalahan pemikiran dari anak yang menyebabkan ia memiliki rasa takut dan perasaan negatif lainnya.
Setelah mendapatkan pemikiran salah yang melatarbelakangi munculnya perasaan itu, maka tugas selanjutnya adalah menerima dan memahami perasaan dan pemikiran tersebut. Kesalahan terbesar orangtua adalah justru menertawakan, mengabaikan dan meremehkan perasaan dan pemikiran anak. Akibatnya, anak menjadi semakin jauh dengan kita, sebagai orangtua dan ia menjadi tidak berani terbuka dan jujur lagi.

Ada juga anak yang tidak termotivasi dalam belajar lebih dikarenakan ia merasa kurang diperhatikan oleh orangtua. Dampaknya ia menjadi malas belajar supaya mendapatkan perhatian walaupun negatif.

Dengan dimarahi atau ditemani ketika belajar, anak mendapatkan hal yang diinginkannya yaitu perhatian dan dekat dengan orangtua. Jika hal ini yang terjadi pada diri anak Anda terimalah perasaan kurang diperhatikan tersebut dan mulailah memberikan perhatian pada anak dengan memiliki waktu berdua – diluar jam belajar.

2. Katakan bahwa kita pernah mengalami perasaan serupa saat kecil (Atau jika tidak pernah, tetap katakan pernah mengalami).

Saat anak mengetahui bahwa orangtua juga pernah mengalami hal serupa maka ini akan membantu anak mengerti bahwa perasaannya adalah alami dan wajar. Selain itu, ia juga akan melihat diri kita sebagai seorang manusia yang sama dengan dirinya.

Perasaan sama ini akan semakin membuat figur kita menjadi mudah untuk dijangkau oleh anak. Apabila ada orangtua yang hanya menceritakan kehebatannya di masa kecil dapat dibayangkan kemungkinan apa yang terjadi.

Kemungkinan itu adalah anak akan merasa rendah diri. Hal ini dikarenakan anak merasa orangtuanya adalah manusia yang super hebat. Sedangkan dirinya adalah manusia kecil yang tidak berdaya. Hal ini tentunya akan menciptakan jurang pemisah yang semakin lebar antara orangtua dan anak secara tidak sadar. Bahkan ada anak yang merasa bahwa dirinya bukanlah anak dari orangtuanya, hanya karena ia merasa tidak sehebat papa atau mamanya. Atau kemungkinan lain, anak akan berusaha mati-matian menjadi diri orangtuanya ketika kecil (dengan bersikap dan berbicara yang mirip). Pada kasus yang ekstrem, anak akan kesulitan menjadi diri sendiri dan mengenal diri sendiri.

3. Berikan pemikiran yang benar

Setelah tahu latar belakang pemikirannya yang membawa pada munculnya perasaan yang negatif, tugas kita selanjutnya adalah meluruskannya. Misalnya jika anak merasa takut dengan ujian yang akan dihadapi besok. Cukup katakan “Terkadang rasa takut itu membuat kita menjadi lebih siaga sehingga lebih waspada terhadap apa yang akan dihadapi besok. Jadi rasa takut itu sebenarnya pengingat kita untuk menghadapi suatu tantangan”. Atau “Kadang-kadang mama harus menghadapi dulu tantangannya, kerjakan dulu dan selesaikan dulu, baru akhirnya mama sadar bahwa sebenarnya mama itu pintar juga lo.” “Ujian itu memang rasanya menakutkan tapi kalau kita sudah belajar, istirahat yang cukup, mama rasa pasti kita semua akan berhasil melewati. Kalaupun ternyata masih kurang memuaskan ya … tidak masalah … nanti pasti akan lebih baik lagi.”

4. Berikan sugesti bahwa kita percaya pada kemampuan anak.

Pemberian sugesti ini akan membantu anak untuk mempercayai dirinya sendiri. Kadang kala rasa percaya diri timbul ketika ada satu orang yang percaya bahwa kita memiliki kemampuan untuk menghadapi suatu tantangan. Bagi seorang anak “satu orang” itu adalah kita sebagai orangtuanya, orang terdekatnya. Cukup katakan “Papa percaya, malam ini kamu akan tidur dengan enak dan besok akan buka mata dengan badan yang segar.” Atau “Mama yakin ujian besok dapat kamu kerjakan dengan teliti dan rapi, kerjakan saja dan nikmati semuanya, ok!”

Saya yakin dan percaya bahwa para pembaca sekalian akan mendapatkan hasil yang luar biasa menerapkan hal tersebut di atas karena apa yang saya bagikan ini adalah hal yang mendasar yang kami berikan juga pada para klien SekolahOrangtua dalam ruang terapi dan konseling kami.

Sandra M.,MPsi.,Psikolog (Partner Konselor dan Terapis SekolahOrangtua.com)

Selasa, 18 Agustus 2009

Untuk Para Ayah



http://www.eramuslim.com

Publikasi: 26/04/2005 09:00 WIB






eramuslim - "Sini nak, sun tangan dulu sama abi," sambil membetulkan kaus kaki yang sedang dikenakannya ia memanggil ke dua putrinya yang tengah asyik di depan TV. Ada serial Dora, acara favorit mereka. Mendengar panggilan sang Ayah, dua balita itu berebut ke arahnya. Senyuman lelaki itu terkembang, tanpa menunggu waktu, setelah sun tangan, anak-anak kecil itu diberikan kecupan, tak cukup, satu persatu ia mengangkat tubuh si kecil dan didekapnya agak lama.

"Abi pergi dulu, nanti main sama teteh yah...", ia pun pamit diiringi langkah-langkah kecil ke dua puterinya. Di pintu gerbang, sang Ayah melambaikan tangan dan melemparkan sun jauh, masih ada senyum hangat di sana. Pagi baru saja beranjak. Sebetulnya ia masih ingin bercengkrama dengan mereka. Anak pertamanya sekarang sudah mulai lancar berbicara. Ia tidak berkerut lagi untuk mencerna perkataan putrinya. Dan adiknya sudah pandai berjalan, meski kadang beberapa kali harus tersungkur karena masih kurang keseimbangan. Dua-duanya perempuan. Lucu-lucu.

Jika sudah bermain dengan mereka, ia seperti mendapatkan banyak kenikmatan. Binar itu sungguh jelas menelaga di matanya. Maka, meninggalkan mereka menjadi hal yang memberatkannya. Hari ini, seperti kemarin dan kemarinnya lagi, besok dan selanjutnya, pergi untuk waktu yang lama, berada di luar rumah meraup nafkah halal adalah kewajiban yang tidak mungkin dilalaikannya. Ia sering kehilangan waktu berharga dengan mereka. Tetapi, bukankah yang dilakukannya juga adalah sebentuk cinta penuh makna untuk dua permata hatinya?

***

Para Ayah, mungkin adalah orang-orang yang mempunyai konsekuensi jauh dari anak-anak. Ya, karena umumnya seorang ayah harus berada di luar rumah dalam waktu yang lama untuk memenuhi tanggung jawabnya dalam hal mencari nafkah keluarga. Untuk para ayah yang bekerja di kota besar, pergi pagi --bahkan jauh sebelum matahari terbit-- pulang larut adalah hal yang teramat biasa. Sudah lumrah malah, ketika akan ke kantor anak-anak masih bergumul di peraduan, dan pada saat pulang pun ia mendapati anak-anaknya sudah jatuh di ujung lelap. Bahkan, salah seorang rekan kerja, seringkali berhari-hari tidak pulang untuk urusan pekerjaan yang harus diselesaikannya di kantor. Pertemuan dengan anak-anak mungkin hanya saat si ayah libur bekerja.

Berbeda dengan ibu --jika tidak bekerja-- yang setiap hari bisa mengurus secara langsung buah hatinya. Mulai dari bangun tidur, memandikan, urusan makanan, hingga persoalan sekolah dan tetek bengek keperluan sang anak. Ibulah yang secara fisik berhubungan dengan mereka. Maka, tak heran anak cenderung lebih dekat dengan ibu, dan biasanya ibulah yang menjadi tempat curhat anak-anaknya ketika mereka dihadapkan dengan berbagai masalah.

Padahal, kedekatan ayah dan anak sungguh sangat diperlukan. Tanggung jawab ayah tidak hanya sebatas bekerja mencari uang untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Pemenuhan kebutuhan itu hanya sebatas pada fisik saja, tidak secara emosi. Anak-anak bukanlah robot, ia adalah manusia yang mempunyai hati dan jiwa. Anak-anak adalah amanah dari Allah SWT. Ia butuh kasih sayang, perhatian dan bimbingan. Jiwanya perlu pengarah. Hatinya tak akan kaya hanya diberi berlimpah materi. Ia butuh sentuhan dan kehangatan. Dan semua kebutuhan ini tidak boleh hanya dipenuhi dari ibunya saja. Peran ayah tidak kalah penting. Menurut para pakar psikologi keluarga, sosok ayah berpengaruh terhadap konsep diri sang anak kelak. Anak butuh keduanya. Sentuhan ibu dan arahan Ayah.

Tapi bagaimana dengan masalah waktu yang dimiliki sang Ayah? Jarangnya ayah di rumah tentunya mengurangi interaksi dengan mereka. Ini bukan alasan, hal tersebut bisa disiasati. Karena sesungguhnya, yang paling penting adalah kualitas pertemuan bukan hanya kuantitasnya. Ketika ada kesempatan berdekatan dengan sang anak, sebaiknya para ayah memanfaatkan waktu sebaik mungkin, menanyakan keadaan mereka, bermain-main, hingga membantu anak-anak mengerjakan PR atau hal sepele lainnya. Dalam kesempatan bertemu dengan mereka, ajarkan nilai-nilai dan akhlak yang baik.

Sesungguhnya kedekatan itu bisa dibangun dengan berbagai cara, tidak hanya secara fisik berdekatan dengan mereka. Toh, ketika mempunyai banyak waktu di rumah tetapi perhatian ayah hanya kepada urusan kerja, tentu tidak akan ada artinya. Jika ayah tidak bisa memantau perkembangan anak-anak secara langsung, ia bisa bertanya kepada istrinya, ayah bisa meluangkan waktu walau hanya sebentar untuk berkomunikasi entah melalui telpon, pesan sms atau fasilitas lainnya. Intinya ayah selalu tahu perkembangan anak-anak yang diamanahkan Allah kepadanya.

Dan ada yang jauh lebih bermakna. Dalam setiap sujud di waktu shalat, dalam keheningan sepertiga malam terakhir, dalam setiap waktu luang dan lengang, sempatkan menengadah pinta kepada Yang Maha Kuasa, mengurai berbagai harap kepada Allah, tentang kebaikan sang anak. Membawa anak-anak dalam setiap doa, bisa jadi sebuah sarana pembangun kedekatan antara anak dan ayah yang paling indah.

Wallahu a'lam

Husnul Mubarikah

Duhai Bunda, kasihilah Anakmu


Oleh : Hafizah Nur

Eramuslim. 5 Sep 06 11:41 WIB
Pagi itu cerah. Saya sedang menikmati dua jam perjalanan menuju Tokyo. Di kala orang-orang bergegas berangkat ke kantor atau ke sekolah. Kereta selalu penuh di saat itu. Tetapi berpergian ke tempat yang cukup jauh dari tempat saya tinggal selalu membuat anak-anak ceria. Saya pun terbawa ke alam keceriaan mereka.

Saya duduk di ujung gerbong, tempat untuk orang-orang khusus. Di setiap kereta di Jepang, ada bangku khusus untuk orang tua, ibu hamil, orang sakit atau yang cedera berat, dan ibu-ibu yang membawa anak kecil. Suatu wujud kepedulian pemerintah Jepang terhadap warganya yang lemah. Inilah tempat pavorit saya yang senantiasa membawa dua balita kala berpergian. Beberapa meter di sebelah kanan saya, duduk juga seorang ibu muda dengan dua anak balitanya. Usianya sama dengan usia anak-anak saya. Yang besar sekitar tiga atau empat tahun, dan yang kecil sekitar satu tahun. Dua anak yang lucu dan menggemaskan bagi yang melihatnya. Anak pertamanya duduk dengan manis di samping sang ibu, sedang yang lebih kecil duduk dipangkuan ibunya.

Suasana tenang saat itu, sampai tiba-tiba, ”Dame Yo!!”* Suara hardikan terdengar dari bangku ibu tadi. Saya dan beberapa orang penumpang menoleh ke arahnya. Balita satu tahunnya sedang berusaha memainkan kalung sang ibu. Mungkin ia bosan dengan perjalanan panjangnya. Anak itu diam sebentar. Beberapa saat kemudian kembali mengajak sang ibu bermain. “Dame!! Duduk yang baik!!” Kali ini suara bentakan lebih keras terdengar. Sang ibu terlihat lelah dan ingin memejamkan matanya, tetapi terganggu dengan tingkah sang balita. Kali ini anak itu agak lama menghentikan aksinya. Tapi kemudian ia kembali berusaha memainkan kalung ibunya. “Naoko chan*, jangan mengganggu!!!” kali ini sang ibu benar-benar marah.

Dengan kasar Ia meletakkan balitanya di sampingnya, di dekat sang kakak. Anaknya menangis keras, dan berusaha untuk kembali ke pangkuan ibunya. Dengan kasar ditepisnya tangan anak itu. Ternyata sang kakak juga berusaha membantu ibunya dengan menekan tubuh adiknya ke belakang. Tangis anak itu semakin keras. Tapi sang ibu tetap tak mau mengangkatnya. Dan tak mencoba menolongnya dari tekanan sang kakak. Lama anak itu menangis, sampai akhirnya lelah dan tertidur.

Saya menahan nafas selama episode itu berlangsung. Ada rasa nyeri di dada melihat seorang anak usia satu tahun yang bosan, dan ingin mengajak main sang ibu, tetapi harus kecewa dengan kekasaran yang diterimanya. Ah, seringkah sang anak mendapat perlakuan kasar tersebut? Atau saat itu adalah situasi khusus yang mebuat sang ibu tidak ingin diganggu oleh tingkah sang anak? Sebagai ibu dari dua anak, saya juga bisa memahami kelelahannya dalam menyiapkan perjalanan dan mengurus anak-anak. Tetapi memperlakukan anak usia satu tahun dengan sangat kasar adalah satu hal yang tidak bisa saya terima.

Sering juga saya melihat hal-hal semacam itu. Tidak hanya di Jepang, di Indonesia pun sering saya menyaksikan orang tua yang dengan tega membentak, mencubit atau memukul anaknya yang masih kecil. Bahkan kadang kala hukuman itu tak sebanding dengan kesalahan yang diperbuat sang anak. Meskipun sang anak sama sekali tidak tahu bahwa itu suatu kesalahan. Di benak sang anak mungkin hanya ingin bermain atau bereksplorasi. Sesuatu yang wajar di dunia anak-anak.

Saya teringat kisah baginda Rasulullah. Ketika beliau sedang menimang seorang bayi, lalu bayi itu buang air kecil di baju Rasulullah. Dengan kasar sang ibu mengambil anak itu dari tangan Rosulullah. Ia marah karena anaknya yang masih bayi mengotori baju Rasulullah dengan najisnya. Saat itu Rasulullah berkata, “Wahai ibu,

Najis anakmu ini mudah untuk dibersihkan, tetapi kekeruhan jiwanya akibat kekasaranmu sulit untuk dihilangkan”. Teringat juga betapa Rasulullah sangat sabar terhadap kedua orang cucu beliau, Hasan dan Husein. Ketika Rasulullah sholat, dengan sabar beliau memperlama sujudnya, agar kedua cucunya bisa puas bermain di atas punggung beliau.

Betapa lembutnya Rasulullah memperlakukan anak-anak. Dan betapa perhatiannya Rasulullah akan perkembangan jiwa seorang anak. Baginda Rasulullah tahu, kekasaran seorang ibu kepada anak akan merusak perkembangan jiwanya. Mencabut keceriaan anak akan membuat anak menjadi pribadi yang kasar dan berjiwa sempit.

Perkembangan psikologi saat ini juga membuktikan betapa pentingnya bersikap lembut kepada anak-anak. Kemampuan orang tua dalam memahami keinginan anak, mengerti emosi apa yang sedang dirasakan anak, dan berusaha menyenangkan hati anak, berefek positif dalam memupuk kepribadian anak. Menjadikan anak sebagai seorang yang percaya diri karena merasa diterima oleh lingkungannya. Semoga banyak orang tua yang semakin menyadari hal ini, agar banyak anak bisa berkembang sesuai dengan fitrahnya, ceria dan penuh percaya diri. Menjadi pribadi yang sehat ketika dewasa nanti.

Dame: jangan
chan: panggilan khas untuk anak-anak anggota flp Jepang

8 Kado Terindah




Aneka kado ini tidak dijual di toko. Anda bisa menghadiahkannya setiap saat, dan tak perlu membeli ! Meski begitu, delapan macam kado ini adalah hadiah terindah dan tak ternilai bagi orang-orang yang Anda sayangi.




  1. KEHADIRAN
    Kehadiran orang yang dikasihi rasanya adalah kado yang tak ternilai harganya. Memang kita bisa juga hadir dihadapannya lewat surat, telepon, foto atau faks. Namun dengan berada disampingnya, Anda dan dia dapat berbagi perasaan, perhatian, dan kasih sayang secara lebih utuh dan intensif. Dengan demikian, kualitas kehadiran juga penting. Jadikan kehadiran Anda sebagai pembawa kebahagiaan.
  2. MENDENGAR
    Sedikit orang yang mampu memberikan kado ini, sebab, kebanyakan orang lebih suka didengarkan, ketimbang mendengarkan. Sudah lama diketehui bahwa keharmonisan hubungan antar manusia amat ditentukan oleh kesediaan saling mendengarkan. Berikan kado ini untuknya. Dengan mencurahkan perhatian pada segala ucapannya, secara tak langsung kita juga telah menumbuhkan kesabaran dan kerendahan hati. Untuk bisa mendengar dengan baik, pastikan Anda dalam keadaan betul-betul relaks dan bisa menangkap utuh apa yang disampaikan. Tatap wajahnya. Tidak perlu menyela, mengkritik, apalagi menghakimi. Biarkan ia menuntaskannya. Ini memudahkan Anda memberi tanggapan yang tepat setelah itu. Tidak harus berupa diskusi atau penilaian. Sekedar ucapan terima kasihpun akan terdengar manis baginya.
  3. DIAM
    Seperti kata-kata, di dalam diam juga ada kekuatan. Diam bisa dipakai untuk menghukum, mengusir, atau membingungkan orang. Tapi lebih dari segalanya. Diam juga bisa menunjukkan kecintaan kita pada seseorang karena memberinya "ruang". Terlebih jika sehari-hari kita sudah terbiasa gemar menasihati, mengatur, mengkritik bahkan mengomeli.
  4. KEBEBASAN
    Mencintai seseorang bukan berarti memberi kita hak penuh untuk memiliki atau mengatur kehidupan orang bersangkutan. Bisakah kita mengaku mencintai seseorang jika kita selalu mengekangnya? Memberi kebebasan adalah salah satu perwujudan cinta. Makna kebebasan bukanlah, "Kau bebas berbuat semaumu." Lebih dalam dari itu, memberi kebebasan adalah memberinya kepercayaan penuh untuk bertanggung jawab atas segala hal yang ia putuskan atau lakukan.
  5. KEINDAHAN
    Siapa yang tak bahagia, jika orang yang disayangi tiba-tiba tampil lebih ganteng atau cantik ? Tampil indah dan rupawan juga merupakan kado lho. Bahkan tak salah jika Anda mengkadokannya tiap hari ! Selain keindahan penampilan pribadi, Anda pun bisa menghadiahkan keindahan suasana di rumah. Vas dan bunga segar cantik di ruang keluarga atau meja makan yang tertata indah, misalnya.
  6. TANGGAPAN POSITIF
    Tanpa sadar, sering kita memberikan penilaian negatif terhadap pikiran, sikap atau tindakan orang yang kita sayangi. Seolah-olah tidak ada yang benar dari dirinya dan kebenaran mutlak hanya pada kita. Kali ini, coba hadiahkan tanggapan positif. Nyatakan dengan jelas dan tulus. Cobalah ingat, berapa kali dalam seminggu terakhir anda mengucapkan terima kasih atas segala hal yang dilakukannya demi Anda. Ingat-ingat pula, pernahkah Anda memujinya. Kedua hal itu, ucapan terima kasih dan pujian (dan juga permintaan maaf), adalah kado cinta yang sering terlupakan.
  7. KESEDIAAN MENGALAH
    Tidak semua masalah layak menjadi bahan pertengkaran. Apalagi sampai menjadi cekcok yang hebat. Semestinya Anda pertimbangkan, apa iya sebuah hubungan cinta dikorbankan jadi berantakan hanya gara-gara persoalan itu? Bila Anda memikirkan hal ini, berarti Anda siap memberikan kado "kesediaan mengalah". Okelah, Anda mungkin kesal atau marah karena dia telat datang memenuhi janji. Tapi kalau kejadiannya baru sekali itu, kenapa mesti jadi pemicu pertengkaran yang berlarut-larut ? Kesediaan untuk mengalah juga dapat melunturkan sakit hati dan mengajak kita menyadari bahwa tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini.
  8. SENYUMAN
    Percaya atau tidak, kekuatan senyuman amat luar biasa. Senyuman, terlebih yang diberikan dengan tulus, bisa menjadi pencair hubungan yang beku, pemberi semangat dalam keputus asaan. Pencerah suasana muram, bahkan obat penenang jiwa yang resah. Senyuman juga merupakan isyarat untuk membuka diri dengan dunia sekeliling kita. Kapan terakhir kali anda menghadiahkan senyuman manis pada orang yang dikasihi ?

Sumber : www.dudung.net

Ketika Harus Menghukum Anak


http://www.hidayatullah.com/majalah/data.php?id=224

Edisi 10/XV 2003 - Jendela Keluarga - Kolom Fauzil Adhim
Oleh : Mohammad Fauzil Adhim





Inilah riwayat Bukhari. Husain, cucu Nabi yang masih kecil ketika itu, mengambil sebiji kurma sedekah. Ia masukkan ke dalam mulutnya. Begitu mengetahui, Nabi Saw. segera mengeluarkan kurma itu dari mulut cucunya. Haram bagi keluarga Nabi makan sedekah. Karenanya, Nabi Saw. segera bertindak agar tak ada harta haram yang tertelan oleh cucunya.

Kisah yang diriwayatkan oleh Bukhari ini mengajarkan kepada kita tentang beberapa hal. Di dalamnya ada pelajaran tentang kehati-hatian dalam memakan harta agar tak terjatuh dalam dosa dan syubhat. Di dalamnya ada pelajaran tentang tarbiyah; seorang anak perlu belajar menjauhi yang haram meskipun perbuatan mereka belum dihisab, sehingga tak ada dosa bagi mereka. Di dalamnya juga terdapat contoh tentang ketegasan. Nabi adalah orang yang paling sayang kepada anak-anak dan cucunya. Tetapi besarnya kasih-sayang, tidak menghalangi Nabi Saw. untuk menunjukkan ketegasannya.

Kisah tentang kurma ini hanyalah satu di antara sekian banyak hadis yang menceritakan kepada kita tentang bagaimana Nabi Saww. mendidik anak. Sepanjang yang mampu saya pahami, ada perbedaan cara dalam menyikapi perilaku anak. Nabi Saw. melarang orangtua memarahi anak yang memecahkan piring karena segala sesuatu ada ajalnya, termasuk piring. Nabi Saw. juga pernah menegur sahabat yang melarang anak kecil bermain pasir. Ketika Ummu Al-Fadhl merenggut anaknya secara kasar karena pipis di dada Nabi Saw., dengan tegas beliau menegur, “Pakaian yang kotor ini dapat dibersihkan dengan air. Tetapi apa yang dapat menghilangkan kekeruhan jiwa anak ini akibat renggutanmu yang kasar?”

Sejauh kesalahan itu tidak berkaitan dengan hak orang lain, atau berhubungan dengan halal dan haram, Nabi Saw. menunjukkan sikap yang lunak. Tetapi Nabi Saw. segera mengambil sikap yang tegas ketika itu menyangkut hak orang lain. Besarnya penghormatan Nabi Saw. terhadap hak, tampak semakin jelas bila kita mengingat satu peristiwa yang diriwayatkan oleh Bukhari & Muslim:

Dari Sahl bin Sa’ad r.a., Rasulullah Saw. pernah disuguhi minuman. Beliau meminumnya sedikit. Di sebelah kanan beliau, ada seorang anak kecil dan di sebelah kiri duduk para orangtua. Beliau bertanya kepada anak kecil itu, “Apakah engkau rela jika minuman ini aku berikan kepada mereka?” Anak kecil itu menjawab, “Aku tidak rela, ya Rasul Allah, demi Allah, aku tidak akan memperkenankan siapa pun merebut bagianku darimu.” Rasulullah Saw. meletakkan minuman itu ke tangan anak kecil tersebut. (HR. Bukhari dan Muslim).

Jika Rasulullah Saw. memberi penghormatan kepada hak anak yang masih kecil sekalipun, kita justru sangat sering mengabaikannya dengan alasan mendidik mereka untuk menjadi dermawan. Kita sering merampas hak-hak mereka. Mereka memang mau memberi, tetapi bukan karena dorongan dalam hati, melainkan karena tak kuasa menghadapi desakan orangtua. Mereka mengalah karena tak berdaya, sehingga saat mereka beranjak dewasa, kita dikejutkan oleh sikap mereka yang keras kepala, mau menang sendiri, dan tidak mau peduli dengan orang lain. Khairul kalam kalamullah, khairul huda huda Muhammad. Sebaik-baik perkataan adalah firman Allah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Rasulullah Muhammad Saw.

Di balik penghormatan Nabi Saw. kepada hak anak, ternyata ada kebaikan yang sangat besar. Ketika hak mereka dijaga, mereka akan belajar menemukan rasa aman. Mereka juga belajar menghormati hak orang lain. Inilah jalan yang memudahkan mereka untuk mengalah secara sadar dengan memberikan haknya kepada orang lain. Dan sejarah telah mengajarkan kepada kita, generasi didikan Nabi lah yang benar-benar memiliki akhlak menakjubkan. Bukan generasi kita, ketika psikologi dan ilmu pendidikan berkembang luar biasa.

Ya Allah..., alangkah beringasnya kita kepada anak, padahal kita mengaku ummat Muhammad. Hanya karena lupa baca basmalah ketika makan, seorang bapak memukul tangan anaknya keras-keras. Ia menghukum karena tidak ingin anaknya menyepelekan agama, tetapi ia lupa bahwa sikap seperti itu dapat menyebabkan anak menyimpan anggapan yang buruk kepada agamanya. Padahal agama sendiri telah memberi kemudahan. Kalau lupa baca basmalah, cukuplah kita membaca, “Bismillahi awaluhu wal akhiruhu.”

Bercermin pada Nabi, kita perlu memilah cara bersikap kepada anak. Inilah bagian tersulit yang saya rasakan. Terlebih jika kita terbiasa bertindak impulsif dalam menyikapi perilaku anak, terutama perilaku yang kita anggap sebagai kenakalan. Padahal sikap selektif yang konsisten dalam menghukum anak, merupakan kunci agar tindakan kita benar-benar efektif. Memberi hukuman kepada anak dalam bentuk yang sama dengan tingkat yang sama pula untuk setiap bentuk kesalahan, justru dapat membuat hukuman tidak efektif. Apalagi kalau kita menghukum anak tanpa ada tolok ukur yang jelas. Berat ringannya hukuman semata-mata berdasarkan suasana hati kita.

Alhasil, persoalannya terletak pada bagaimana kita memberi hukuman. Menghukum dengan cara yang tidak tepat, bisa membuat anak merasa dilecehkan. Anak merasa orangtua sewenang-wenang, kejam, seenaknya sendiri dan sejumlah perasaan negatif lainnya. Anak bisa merasa dibeda-bedakan dengan saudaranya yang lain. Akibat lain dari hukuman yang tidak tepat, anak bisa menjadi minder, penakut atau bahkan pengecut. Tetapi mendidik anak tanpa aturan yang harus dihormati, bisa membuat anak tidak mampu mengendalikan diri. Mereka bisa menjadi pribadi a-sosial; pribadi yang tidak mampu bermasyarakat.

Apa saja yang perlu kita perhatikan ketika harus memberi hukuman pada anak? Wallahu A’lam bishawab. Selebihnya ada beberapa catatan yang perlu kita perhatikan.

Pertama, menghukum anak bukan sebagai luapan emosi, apalagi sebagai pelampiasan rasa jengkel karena perilaku mereka yang memusingkan kepala. Segala sesuatu berawal dari niat. Tampaknya sepele, tetapi yang sepele ini mempengaruhi sikap kita, dan cara kita bersikap akan mempengaruhi penerimaan anak. Selain itu, dengan senantiasa belajar membenahi niat kita dalam menghukum anak, perilaku kita lebih terkendali. Kalau kita masih terbiasa bertindak impulsif, sekurangnya emosi kita akan lebih mudah reda. Kita lebih cepat menyadari kekeliruan kita dalam menghadapi anak.

Kedua, menghukum merupakan tindakan mendidik agar anak memiliki sikap yang baik. Artinya, hal terpenting dalam menghukum adalah anak mengerti apa yang seharusnya dilakukan dan memahami apa yang menyebabkan dia dihukum. Jika anak menyadari kesalahannya dan memperbaiki sikapnya, orangtua perlu memberi umpan balik yang positif. Tidak layak orangtua terus memberi tekanan mental kepada anak, padahal mereka telah menunjukkan penyesalan. Sebaliknya, yang perlu kita berikan adalah dukungan dan penerimaan yang tulus.

Ketiga, tindakan memberi hukuman kepada anak adalah dalam rangka mengajari anak bahwa setiap perbuatan mempunyai konsekuensi. Orangtua menghukum anak bukan karena marah atau membalaskan kejengkelan. Juga bukan untuk mempermalukan anak. Yang disebut terakhir ini perlu saya garis bawahi. Sering saya jumpai orangtua menghukum anak dengan cara mempermalukan, bahkan ketika anaknya masih belum genap berusia tiga tahun. Lebih menyedihkan lagi, terkadang orangtua tidak puas hanya dengan mempermalukan di hadapan teman dan tetangga. Orangtua bahkan mengolok-olok anak tanpa rasa bersalah sedikit pun. Padahal, inilah yang menghancurkan citra diri dan harga diri anak.

Apa yang terjadi jika anak merasa hukuman itu untuk mempermalukan dirinya? Ada beberapa kemungkinan. Boleh jadi anak berusaha untuk melakukan tindakan serupa. Anak mempermalukan orangtua. Boleh jadi anak belajar menjadi pemberontak. Mereka merasa senang apabila bisa membuat orangtuanya marah. Atau boleh jadi sebaliknya, anak merasa minder. Anak merasa dirinya tidak berharga.

Nah, kita akan mudah terpancing memberi hukuman yang mempermalukan anak apabila niat kita tidak kokoh. Karena itu, suami-istri perlu bekerja sama untuk terus-menerus membenahi niat. Ya, terus-menerus. Tanpa niat yang jernih, emosi bisa berapi-api tanpa terkendali. Kemarahan bisa meledak. Dalam keadaan demikian, kita mudah lupa terhadap niat awal membesarkan anak. Alhasil, keduanya saling berkait. Niat mempengaruhi emosi, dan sebaliknya emosi mempengaruhi niat. Lagi-lagi, butuh kerja-sama yang terus-menerus antara suami dan istri untuk senantiasa menata niat.

Saya mohon maaf jika harus mengulang-ulang masalah niat. Saya merasa perlu menegaskan hal ini karena saya melihat masalah niat memiliki pengaruh yang kuat. Niat bisa membawa dampak yang besar. Sayangnya, kita amat sering lupa.

Keempat, hukumlah anak, tetapi jangan sakiti dia. Acapkali kita bermaksud menghukum anak, tetapi yang terjadi sebenarnya adalah menyakiti hati anak. Kita memojokkan anak dengan pertanyaan-pertanyaan yang membuatnya mati kutu. Atau, kita menghujani anak dengan ancaman-ancaman yang menakutkan, meskipun anak sudah menunjukkan iktikad baik. Lebih tragis, kalimat-kalimat menyakitkan itu kadang kita ucapkan ketika penyesalan itu muncul dari kesadaran anak. Bukan saat tengkuk anak merunduk mendengar nasehat kita (yang barangkali lebih tepat disebut omelan).

Kelima, tetaplah berpikir jernih saat menghukum anak. Keputusan-keputusan yang baik dapat kita ambil hanya ketika pikiran kita jernih. Tanpa itu, tindakan kita justru bisa memperpanjang masalah dan memperumit keadaan. Tetapi, lagi-lagi pikiran yang jernih hanya bisa muncul ketika hati kita tenang dan emosi kita terkendali. Dalam keadaan emosi meluap-luap dan amarah yang memuncak, sulit kita berpikir dengan tenang, rasional dan terarah. Ini berarti, kita perlu kendali diri yang kuat. Begitu kemarahan memuncak akibat ulah anak-anak yang senantiasa teriak-teriak, kita perlu segera meredakan gejolak. Kita perlu mendinginkan emosi. Jika kita tidak mampu melakukannya, tugas istri untuk mengingatkan.

Kalau boleh jujur, inilah bagian paling sulit yang saya rasakan: menata hati terus-menerus. Padahal semua berawal dari sini. Ya, segala sesuatu bergantung dari niatnya. Dan niat bukanlah apa yang kita katakan, tetapi apa yang menggerakkan kita untuk berbuat. Wallahu a’lam bishawab.

Keenam, kasih-sayang mendahului kemarahan. Meskipun kita memberi hukuman kepada anak, tunjukkanlah bahwa kita melakukannya karena didorong oleh rasa cinta dan kasih-sayang. Imbasnya, jangan berat hati untuk mengusap kepala mereka atau mengecup keningnya dengan mesra ketika mereka menunjukkan keinginan untuk memperbaiki diri. Tunjukkanlah kasih-sayang sesudah menghukum, meski hati kita masih bergemuruh karena rasa jengkel yang belum pergi.

Tips Berbicara kepada Anak


Oleh: Renate Zorn
Konsultan Komunikasi, penulis "Good Conversation is for Everyone: Ten Steps to Better Conversations"

Anda mungkin tahu rasanya, bagaimana berkomunikasi dengan anak-anak. Terlebih lagi, anak-anak sendiri.

Berbicara kepada anak-anak, sebetulnya menyenangkan walau kadang-kadang mengesalkan. Untuk itu, diperlukan kehati-hatian, mengingat pekanya perasaan mereka, mengingat masih sedikit dan sempitnya wawasan mereka, dan masih polosnya cara berpikir mereka.

Di sela semua "kelemahan" itu, ada satu kekuatan terbesar yang dimiliki hanya di saat tertentu dalam hidup setiap manusia. Kekuatan yang dimiliki hanya di saat manusia masih menjadi anak-anak, yaitu daya ingat dan daya cerna yang luar biasa pesat dan hebatnya. Berhati-hatilah.

Berhati-hatilah jika Anda bermasalah di kantor. Jangan sampai kekesalan Anda tertumpah pada diri dan perasaan mereka. Apapun yang buruk dari mereka, akan berasal dari perkataan Anda sebagai orang tua.

Berhati-hatilah jika Anda bermasalah dengan pasangan atau keluarga Anda. Jangan sampai kemarahan Anda terlampiaskan pada perasaan dan jiwa yang masih benar-benar apa adanya. Apapun yang buruk dari mereka, akan berasal dari perkataan Anda sebagai orang tua.

Berhati-hatilah jika jalan hidup Anda tidak sesempurna yang Anda minta. Jangan sampai kekecewaan Anda menerpa pada hati dan pikiran suci mereka. Sebab Anda akan menciptakan anak-anak yang penuh cacat dan cela di dalam jiwanya. Apapun yang buruk dari mereka, akan berasal dari perkataan Anda sebagai orang tua.

Berikut ini adalah tips dari seorang konsultan komunikasi yang mendalami persoalan komunikasi antar pribadi, termasuk berkomunikasi dengan anak-anak.

TERSENYUMLAH DENGAN TULUS PADA MEREKA

Smile! And mean it! Lebih dari 50% komunikasi Anda, dilakukan dengan bahasa tubuh termasuk ekspresi wajah. Saat berbicara kepada anak-anak, persentase itu akan bertambah. Sebab bahasa tubuhlah yang lebih mereka pahami, ketimbang bahasa intelektual Anda sebagai orang dewasa.

JANGANLAH MERENDAHKAN MEREKA

Janganlah berbicara dengan merendahkan mereka. Adalah baik untuk mengetahui terlebih dahulu, seberapa jauh pemahaman mereka tentang suatu topik. Snorklinglah sebelum diving.

GUNAKANLAH ALAT PERAGA

Gunakan sesuatu yang anak-anak dapat melihat, mendengar dan menyentuhnya. Gunakanlah alat peraga secukupnya. Tidak perlu kebanyakan dan bertaburan. Anda tahu bagaimana anak-anak. Dengan alat peraga, mereka akan lebih mudah mengingat berbagai hal.

SEDERHANAKANLAH BICARA ANDA

Anak-anak akan cepat lelah dengan deskripsi yang terlalu detil, dan dengan teori serta konsep. Gunakanlah cerita, untuk mendemostrasikan informasi yang akan Anda sampaikan. Buatlah proses itu menjadi fun.

BERTANYALAH PADA MEREKA

Pertanyaan akan membuat anak-anak berpikir dan terlibat. Menjawab pertanyaan, bertanya, mengutarakan pendapat, dan melakukan evaluasi, adalah lebih menyenangkan bagi mereka dalam memahami berbagai fakta.

ANTUSIASLAH DI HADAPAN MEREKA

Jadilah antusias dan enerjik. Ini akan membuat Anda dan mereka tetap terjaga dan tertarik pada topik.

PAKAILAH KACAMATA MEREKA

Anak-anak melihat berbagai hal dengan cara pandang yang berbeda. Mereka melihatnya dengan kacamata mereka, bukan kacamata Anda. Concern, prioritas dan sistem nilai mereka, juga berbeda. Temukanlah apa yang penting bagi mereka, sebelum berbicara. Doronglah mereka untuk meminta penjelasan, jika mereka tidak memahami apa yang Anda katakan.

MEREKA TIDAK PEDULI ANDA SEBAGAI PEMBICARA

Mereka, tidak peduli apakah Anda seorang pembicara yang hebat atau tidak. Apa yang mereka inginkan, hanyalah kejujuran, antusiasme, dan respek. Jika Anda melakukan kesalahan berbicara atau lupa akan sesuatu, tak perlu khawatir. Anak-anak itu menyenangkan, sebab mereka tak akan menghakimi Anda. Teruskan saja bicara Anda.

JUJURLAH PADA MEREKA

Jika Anda tidak tahu jawaban dari pertanyaan mereka, jujur saja. Tak usah Anda karang-karang jawabannya. Anak-anak, biasanya mengetahui jika Anda ngibul. Bilang saja nanti akan Anda cari jawabannya. Dan ingatlah, mereka akan menagihnya.

LIBATKANLAH MEREKA

Libatkanlah mereka. Jika ada bagian dari bicara Anda di mana mereka bisa tampil ke depan, melakukan penghitungan, atau membicarakan sesuatu, berikan kesempatan itu pada mereka.

JIKA MEREKA HARUS DUDUK DAN DIAM: TEKNIK ABC

Ada saat atau sesi tertentu di mana anak-anak memang diharapkan hanya duduk dan mendengarkan. Untuk sesi seperti ini, Anda hanya perlu melakukan beberapa penyesuaian.

A: Attention Span

Attention span atau rentang perhatian, adalah faktor yang membedakan kemampuan mendengar, antara anak-anak dan orang dewasa. Setelah dewasa, Anda telah bisa mengembangkan kemampuan untuk lebih fokus dan lebih lama bertahan mendengarkan sesuatu. Anak-anak belum bisa sejauh itu.

Perhatikanlah acara bagus untuk anak-anak di televisi. Semuanya dipecah-pecah ke dalam berbagai segmen yang pendek-pendek. Dibuat seperti itu, agar anak-anak tetap duduk dan mendengarkan.

Jika anak-anak terlibat dalam suatu aktivitas yang tidak dipilihnya sendiri, mereka akan lebih enggan mendengarkan. Prediksilah secara realistis, berapa lama mereka akan tetap fokus.

B: Break it Up

Jika Anda berbicara pada sekelompok anak-anak, pecahlah mereka menjadi kelompok-kelompok kecil. Jika bicara Anda akan panjang atau menyangkut beberapa isu sekaligus, pecahlah bahan bicara Anda menjadi potongan-potongan yang sederhana dan mudah dicerna.

C: Children are Still Children

Seberapa pun besarnya energi dan antusiasme Anda, mereka tak akan pernah melihatnya dari perspektif Anda. Selogis apapun pernyataan Anda, mereka tak akan pernah melihatnya seperti Anda melihatnya. Cobalah untuk memasuki sudut pandang mereka, kemudian bertanyalan WIIFM (What's In It For Me?). Sebab, mereka juga punya yang namanya minat dan ketertarikan pada sesuatu.

KESIMPULAN

Sebagian besar dari kita, adalah orang-orang dewasa yang tak sempurna, manusia-manusia yang penuh dengan cacat dan cela. Sebagian besarnya, disebabkan oleh kata dan bicara para orang tua kita. Kita masih bisa merasakan bekas dan carut-marutnya. Itulah luka lama kita, yang kecil kemungkinan bisa hilang selamanya.

Kita tidak akan menyalahkan para orang tua. Sebab mereka hanya berjalan sesuai dengan perkembangan ilmu dan pengetahuan, sejalan dengan impian dan harapan, seiring dengan wawasan dan kemampuan. Begitulah yang telah terjadi, dan kita sudah tidak bisa apa-apa lagi, kecuali membangun masa depan.

Apa yang terpenting, adalah menciptakan masa depan yang lebih baik dan makin baik. Masa depan dari anak-anak kita.

Kita tak ingin mereka sama tak sempurnanya dengan kita. Kita ingin mereka lebih baik dari kita. Kita tak ingin semua cacat dan cela menggores lagi, seperti yang terjadi pada diri kita sendiri. Kita tak ingin semua itu datang dan datang lagi. Oleh sebab itu, janganlah kita ulangi kembali.

Anak-anak tetaplah anak-anak. Orang dewasa mestinya makin dewasa.


QA COMMUNICATION
School of Motivational Communication
Telepon: 021-70330805
Fax: 021-78885932
Jl. Kelapa Hijau III No. 46
Jagakarsa, Jakarta Selatan
DKI Jakarta, Indonesia

Memperbaiki Perilaku Menyimpang Anak

MUQODDIMAH
Sebelum membahas tentang prilaku yang menyimpang pada anak-anak dan solusinya, orangtua perlu terlebih dahulu memahami tentang ghorizah (naluri, instinct). Ghorizah adalah kekuatan terpendam dalam diri binatang dan manusia yang mendorongnya untuk melakukan beberapa pekerjaan tanpa berpikir dan latihan terlebih dahulu. Sebagaimana pada binatang, pada manusia juga terdapat banyak ghorizah, misalnya rasa ingin tahu, rasa ingin mempertahankan diri, keinginan untuk mengurai dan menyusun sesuatu, cinta diri, ingin menonjol, berhemat dan sebagainya. Ghorizah merupakan nikmat Allah yang diberikan pada anak-anak untuk mendorongnya bergerak sehingga tubuhnya kuat, dan untuk mengetahui, mengurai dan menyusun sesuatu sehingga ia tahu hakikat sesuatu itu.

Sebahagian gorizah ini tampak berbahaya, misal kecenderungan untuk membunuh. Akan tetapi ghorizah ini tidak boleh dikekang sehingga menimbulkan tekanan dan menyebabkan penyakit syaraf. Yang perlu dilakukan oleh orangtua/pendidik adalah bagaimana mengarahkan ghorizah negatip ini menjadi perbuatan yang positip, misal anak yang suka berkelahi dapat diarahkan untuk mengikuti klub-klub olahraga, sehingga ghorizah suka berkelahinya tersalurkan lewat perbuatan yang bermanfaat. Jadi secara ringkas yang perlu dilakukan oleh orangtua dalam masalah ini adalah membiarkan anak-anak mengatakan apa yang ia suka dan mengerjakan apa yang ia kehendaki selama perkataan dan perbuatan itu baik dan tidak membahayakan dirinya dan orang lain. Jika ada kecenderungan yang negatip, maka tugas orangtua adalah mengarahkannya, bukan mengekangnya secara paksa.

SEBAB-SEBAB UMUM PRILAKU YANG MENYIMPANG

Beberapa sebab umum penyimpangan prilaku pada anak-anak adalah:

  • Kekurangsabaran terhadap anak;
  • Anak tidak mendapat suasana yang penuh cinta dan dorongan;
  • Terlalu mengarahkan perubahan prilaku anak ke arah yang lebih baik;
  • Keinginan yang besar dalam menjalankan aturan;
  • Ketidakpahaman terhadap perasaan dan pandangan anak;
  • Tidak menganggap anak sebagai individu yang aktif dalam masyarakat;
  • Membawa persoalan pribadi ke dalam pergaulan dengan anak-anak;
  • Kesalahan dalam memberikan hukuman.
PRINSIP UMUM DALAM MEMPERBAIKI PRILAKU YANG MENYIMPANG PADA ANAK-ANAK
  • Mempergauli anak dengan kasih dan cinta serta menjaga perasaannya;
  • Memahami rahasia tindakannya dan memperhatikan pandangannya;
  • Bersabar, tenang dan bertahap dalam memperbaiki prilakunya;
  • Berusaha untuk memperoleh kepercayaannya sebab hal ini membantu dan mempermudah orangtua dalam proses pendidikannya;
  • Menghindari kesalahan dan konsisten dalam memberikan hukuman;
  • Membantu anak dalam mengoreksi dan memperbaiki kesalahannya;
  • Memberikan kebebasan yang diperlukan anak agar ia dapat mengungkapkan ghorizah-ghorizahnya dan agar ia tumbuh mandiri.
CONTOH-CONTOH KASUS

Anak Durhaka
Penyebab:

  1. Perintah yang diberikan bertentangan dengan ghorizah anak;
  2. Perintah dan larangan tidak konsisten;
  3. Perintah di luar kesanggupan anak;
  4. Perintah yang diberikan memberi peluang untuk didurhakai, tidak disertai dengan penjelasan dan motivasi (sugesti);
  5. Perintah diberikan pada waktu yang tidak sesuai.

Anak Penakut
Ketakutan dapat menyebabkan kerusakan pribadi anak dan syarafnya, bahkan kegilaan.
Penyebab:

  1. Cerita-cerita seram dan menakutkan;
  2. Kurang dibiasakan pada suasana gelap;
  3. Ketakutan orangtua, misal terhadap kecoa, tikus, dan sebagainya;
  4. Hukuman yang berat dan ancaman yang terlalu sering.

Anak Pendusta
Penyebab:

  1. Perlakuan keras dan kasar;
  2. Orangtua yang pendusta;
  3. Kesadaran anak akan kekurangannya;
  4. Karena ingin dipuji dan dorongan naluri cinta diri;
  5. Seringnya mendengar cerita-cerita bohong;
  6. Karena khayalannya.

Anak Pencuri
Penyebab:

  1. Tuntutan/keinginan yang tidak terpenuhi;
  2. Ghorizah yang didorong oleh cerita atau peristiwa yang dilihat;
  3. Meniru perbuatan orangtua, tetangga, atau temannya;
  4. Cemburu dan dendam;
  5. Rasa ingin memiliki.

Anak Pemalas
Penyebab:

  1. Keloyoan (kurang gizi atau ada penyakit)
  2. Kurang mendapat perhatian;
  3. Kurang dukungan orangtua;
  4. Ketidakteraturan dan kekurangharmonisan di dalam rumah tangga.

Anak Penentang
Penyebab:

  1. Perintah yang berlebihan dan di luar batas kemampuan;
  2. Perbedaan orangtua dalam mendidik anak;
  3. Perintah dan larangan yang tidak konsisten atau berlainan antara ibu, ayah, atau guru;
  4. Kedengkian dan perlakuan yang tidak adil;
  5. Kekerasan dan kekasaran dalam mendidik;
  6. Terlalu banyak dilarang, karena kekhawatiran orangtua terhadap anak.

Anak Pendengki
Penyebab:

  1. Tidak mendapatkan tuntutan-tuntutan kehidupan yang pokok;
  2. Perlakuan yang tidak adil;
  3. Memberikan pakaian atau peralatan bekas kakaknya;
  4. Membanding-bandingkan kelebihan atau kekurangan antara anak.

Anak Pemarah
Penyebab:

  1. Kecemburuan akibat perlakuan yang tidak adil;
  2. Sering ditipu baik oleh teman atau saudaranya;
  3. Contoh yang buruk;
  4. Banyaknya perintah, tuntutan, dan beban dari orangtua yang di luar batas kemampuan anak.

Anak Egois
Penyebab:

  1. Contoh dari orangtua;
  2. Kurangnya kerjasama dan tolong-menolong di dalam keluarga;

Anak Perusak
Penyebab:

  1. Ghorizah (rasa) ingin tahu;
  2. Sebab-sebab psikologis, seperti: rasa cemburu, marah, dan dengki;
  3. Sebab-sebab psikologis lain yang tidak disadari.